Minggu, 31 Maret 2013 2 komentar

Hidup itu Pahit, tapi...

Banyak orang yang menganggap kalau hidup itu pahit, memang! Hidup memang pahit dan kejam, faktanya memang benar seperti ini agar kita menjadi pribadi yang kuat dan tegar.
Namun, dibalik itu semua, ada beberapa insan yang mungkin terpuruk dan tertunduk oleh pahitnya kehidupan akibat permasalahan masa lalu yang terlalu disesalkan sehingga membawa dampak negatif kedepannya.

Mereka yang hidup dibawah bayang-bayang masalah lalu akan terbayang betapa pahitnya masa itu bahkan terasa hingga sekarang, bayang-bayang itu akan selalu mengganggu pikiran sehingga tak dapat berpikir positif dan kritis. Ya sebagai contoh berikut ini:
Foto dan nama telah disamarkan. :D
Menurut riset para motivator, pengusaha sukses, pemimpin, dan beberapa tukang sayur mengatakan bahwa orang yang terlalu larut masuk kedalam masalah akan tidak bersemangat menjalankan hidup, dari riset yang pernah gua baca mengatakan bahwa hal yang tepat untuk keluar dari permasalahan itu adalah selalu berpikir positif, karena hal positif berasal dari pikiran positif.

Namun, bukannya sesuatu itu harus seimbang, tidak berat sebelah. Layaknya Logika dan Hati. Maka kalian juga harus menyeimbangkan pikirang positif dengan pikiran negatif. Apabila kalian hanya berpikir postif, apa yang kalian perbuat ketika melihat ada orang yang sedang mencongkel lubang kunci rumah dengan besi? Kalian pasti mengira kalau orang itu adalah pemilik rumah yang lupa menaruh kunci. Dan bagaimana kalau kalian berpikir negatif? Kalian pasti telah mengira bahwa orang itu adalah maling. Dari sini udah bisa kita ambil kesimpulan bahwa seimbang itu penting.

Pahitnya hidup juga tergantung cara orang memandangnya, karena setiap orang punya pikiran dan kepribadian yang berbeda. Jadi, pahit atau tidaknya hidup itu tergantung kalian menyikapinya.

 Yap, pare memang pahit, namun tak sepahit hidup ini. Namun pare bisa saja terasa manis apabila dijadikan manisan. Dari sini mungkin kita bisa ambil kesimpulan singkat yang akan merubah cara pandang kalian.
 "Hidup ini memang pahit, tapi kita bisa memberinya rasa semau hati agar lebih berarti."

NB: Terima kasih kepada @Firmaaan666 karena sudah memberi bahan inspirasi yang tak terduga, kita senasib dan akan bangkit! :D
Kamis, 21 Februari 2013 0 komentar

Firasat ini.. Benarkah?

Let's go back 2 years ago
Saat itu gue masih kelas 1, jaman dimana gue masih terlihat lugu, dan polos. Saat itu gue juga masih jadi orang yang pendiem, gue jarang banget bersosialisasi, mungkin karena gue gak bersemangat menjalani rutinitas belajar.

Menjelang kenaikan kelas, entah kenapa gue secara tiba-tiba mendapat firasat, firasat yang sangat jelas tergambar dan terpampang di otak, firasat itu terasa seperti sebuah gelombang yang ada dalam pikiran dan hati. Firasat itu mengatakan bahwa gue akan bertemu dengan seseorang perempuan yang tidak biasa, gue gak tau kenapa bisa begini tapi firasat ini terus mengatakan berulang-ulang kali hingga beberapa bulan.

Gue mencoba mencari tau apa maksud dari firasat ini, tapi bagaimana?
Gue gak tau harus bagaimana, gue coba hiraukan firasat ini, tapi firasat ini tetap muncul. Setelah itu gue bingung mikirin apa maksud dari firasat ini, saking bingungnya gue sampai nguap-nguap dan akhirnya ketiduran.

Dan waktu itu gue naik ke kelas XI, gue ditempatin di kelas XI IPA 3. Suasana tampak seperti biasanya, namun firasat itu tetap selalu ada untuk mengingatkan. Setelah masuk selama kurang lebih 1-2 minggu mulai tampak sebuah jawaban dari firasat itu, entah kenapa firasat ini berbisik ke dalam pikiran, logika, dan hati seakan-akan memberi tau jawabannya. Saat itu gue liat temen sekelas gue yang mirip kaya Tamara Belichiky versi upin-ipin, wajahnya bersinar layaknya gugus bintang andromeda.

Setelah itu gue merasa ada yang berubah dari gue, seakan ada benih yang mulai tumbuh dari raga ini, sesuatu yang berkembang, sesuatu yang bersinar.

Hey firasat! Apakah ini benar jawabanmu? Allahualam

 "Firasat itu sulit ditebak, ikuti saja alurnya, mudah-mudahan firasat itu menunjukkan kebenarannya"

Histoire de vie Kalih
Penjelasan no. 1
Semoga Allah menjaganya
Rabu, 20 Februari 2013 2 komentar

Logika dan Hati?

Alasan kenapa gue bikin tulisan ini? karena selama ini gue udah salah menggunakan fungsi antara hati dan logika.

Kenapa bisa begitu? Karena gue adalah tipe-tipe orang yang pemikir dan penganalisa, apapun hal-hal yang terjadi selalu gue kait-kaitin dengan logika, karena gue percaya semua hal yang terjadi ke gue itu juga bersifat rasional.

Hal-hal yang berkaitan dengan perasaan aja gue tanggepin pakai logika, alhasil semuanya jadi salah kaprah bahkan jadi rancu. Dan setelah beberapa tahun ini gue sadar, gue sadar gue udah memakai hati dan logika dengan fungsi yang salah.

Sekarang saatnya gue me-revisi keselahan tersebut, gue gak mau kesalahan itu berlanjut hingga larut.

Mulai sekarang, Logika, gue pakai buat hal-hal yang rasional aja. Hal-hal yang termasuk dalam pemecahan masalah yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perasaan.
 
Sedangkan Hati, gue pakai buat hal-hal yang menyangkut perasaan. Hal-hal yang lebih banyak kaitannya dengan perasaan dan kepekaan hati.

Buat kalian yang mungkin punya kesalahan kaya gue gini, bisa diambil hikmah dan coba ubah kesalahan ini untuk kedepannya. Semoga kalian berhasil dalam mempererat tali silaturahmi yang kondusif.

"Logika dan Hati punya fungsinya masing-masing, pergunakanlah disaat yang tepat dan pada orang yang tepat."
Jumat, 11 Januari 2013 0 komentar

Mendaki Lebak Jero

Liburan telah datang, petualangan pun menantang. Demi mengisi liburan, gue dan temen-temen gue merencanakan buat petualangan ke Bandung, persiapan yang matang telah kami siapkan dari jauh-jauh hari, mulai dari tiket kereta, ongkos, peralatan, dll.
Waktu itu kami menggunakan KA Argo Parahyangan tujuan Bandung seharga Rp. 10.000, murah kan? Ya karena kebetulan waktu itu dapet tiket promo, harga aslinya sih Rp. 65.000.

Ini penampakan tiketnya, Hendra itu nama temen gue.

Kereta kami berangkat pukul 20.45, kami pun menunggu di Stasiun sejak pukul 19.00
Setelah naik kedalam kereta, ternyata kondisi didalam kereta sangat sepi. Kami pun dapat leluasa pindah-pindah tempat duduk.
Perjalanan dari Jakarta-Bandung kami tempuh selama 3 jam, kereta kami tiba di Bandung hampir tengah malam, akhirnya kami bergegas mencari angkot untuk dicharter menuju rumah teman kami.

Oh iya, rumah teman kami ini sebetulnya juga sebuah warnet, jadi kami tidur di dalam warnet, ya lumayan juga setelah perjalanan tadi yang selalu kehilangan sinyal handphone, akhirnya bisa facebookan juga. Nah, pas kita lagi istirahat disini, teman kami menawarkan untuk melanjutkan petualangan menuju Lebak Jero. Kami sempat shock, karena pada awalnya kami hanya berencana untuk berpetualang di Bandung. Berhubung tempatnya indah, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan menuju Lebak Jero. Dan saatnya tidur untuk persiapan petualangan esok shubuh.

Om Valen ketiduran

Setelah tidur sekitar 3 jam, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Lebak Jero, jam menunjukan pukul 4 pagi, mata yang masih berkunang serta badan yang masih pegal harus direlakan demi petualangan yang seru. Kami berangkat dari Bandung menggunakan angkutan umum (elf) seharga Rp. 10.000. Perjalanan Bandung-Lebak Jero diperkirakan sekitar 2 jam, kami turun di sebuah gang kecil yang menanjak, ternyata itu jalan menuju Stasiun Lebak Jero. Oh iya kalian tau daerah ini? Lebak Jero berada di daerah Garut, Jawa Barat pada ketinggian 818 diatas permukaan laut.

Gang kecil menuju Stasiun Lebak Jero

Pemandangan disini sangat indah, hawanya dingin sekali hingga mulut kami mengeluarkan asap seperti sedang berada di tempat yang bersalju.

Pemandangan diliat dari gang

Pendakian menuju atas (Stasiun Lebak Jero) kira-kira 1 km. Ya cukup lelah sih, tapi semua itu terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Foto bersama di Stasiun Lebak Jero
KA Lokal Cibatu berhenti di Stasiun Lebak Jero
Motret bersama
Om Valen lagi motret
Om Valen nyari spot buat motret
Si Bibit menelusuri rel
Dari dekat: Gue, Bibit, Rama, Hendra

Gue dan Om Valen

Dari dekat: Bibit, Gue, Wisnu
Wisnu photo di tengah jembatan kereta

Cuma pada pakai celana pendek

Diatas bukit

Ini gue
Gue dan Bibit menikmati pemandangan indah
Nah, itu tadi petualangan kita mendaki Lebak Jero, buat kalian yang mau kesini silahkan saja, ongkosnya pun tak terlalu mahal. Akhirnya kami pulang ke Bekasi menggunakan bus Primajasa yang kami cegat di gang kecil dimana kita tadi turun dari elf, harga tiketnya hanya Rp. 26.000 waktu itu. Perjalanan menuju Bekasi ditempuh selama 5 jam, lucunya teman kami Rama menahan kencing sejak dari berangkat, ia bilang kalau ia trauma naik bus yg gak ada toiletnya haha. Sungguh ini petualangan yang sangat mengasyikkan! Pingin rasanya kembali lagi.
 
;